Reality Magazines – Harga Bitcoin kembali mengalami tekanan signifikan dalam sepekan terakhir. Aset kripto terbesar dunia tersebut mencatat penurunan tajam secara beruntun. Kondisi ini membuat posisinya terdepak dari jajaran 10 besar aset global berdasarkan kapitalisasi pasar. Pada Senin pagi, 2 Februari 2026, Bitcoin diperdagangkan di kisaran 77.557 dollar AS per keping. Nilai tersebut setara sekitar Rp1,3 miliar dengan asumsi kurs Rp16.777 per dollar AS. Penurunan harga ini mencerminkan meningkatnya tekanan jual di pasar kripto global. Investor terlihat semakin berhati-hati terhadap aset berisiko tinggi. Situasi pasar yang tidak menentu turut memperkuat sentimen negatif tersebut.
“Baca Juga: Group Chat Spotify Hadir, Dengarkan Musik Sambil Chat”
Penurunan Kapitalisasi Pasar dan Posisi Global Bitcoin
Berdasarkan data Infinite Marketcap, anjloknya harga Bitcoin berdampak langsung pada kapitalisasi pasarnya. Nilai kapitalisasi Bitcoin kini berada di kisaran 1,55 triliun dollar AS. Dengan angka tersebut, Bitcoin turun ke peringkat ke-14 aset terbesar dunia. Posisi tersebut berada di bawah saham raksasa seperti Tesla dan perusahaan energi Saudi Aramco. Penurunan peringkat ini menandai perubahan signifikan dalam peta aset global. Sebelumnya, Bitcoin cukup lama bertahan di jajaran 10 besar dunia. Tekanan harga yang berkelanjutan membuat posisinya semakin sulit dipertahankan. Kondisi ini menunjukkan besarnya pengaruh volatilitas terhadap aset kripto.
Rekor Tinggi Bitcoin pada 2025 dan Perubahan Sentimen Pasar
Beberapa bulan sebelumnya, Bitcoin sempat mencatat performa yang sangat impresif. Pada Oktober 2025, harga Bitcoin menembus rekor tertinggi sepanjang masa. Nilainya saat itu melampaui 126.000 dollar AS per keping. Kapitalisasi pasarnya bahkan mendekati 2,5 triliun dollar AS. Pada periode tersebut, Bitcoin sempat masuk lima besar aset global. Aset kripto ini juga mengungguli perusahaan teknologi besar seperti Google dan Amazon. Namun, kondisi pasar kini berubah drastis. Sentimen positif yang sebelumnya mendominasi mulai memudar. Tekanan makroekonomi dan ketidakpastian global turut memengaruhi arah pasar kripto.
Tekanan Jual Meningkat dan Sentimen Bearish Investor
Dalam kurun waktu satu pekan terakhir, harga Bitcoin tercatat merosot lebih dari 11 persen. Harga turun dari kisaran 90.000 dollar AS ke bawah 78.000 dollar AS. Level ini menjadi posisi terendah Bitcoin sejak April 2025. Penurunan tersebut mengindikasikan tekanan jual yang semakin kuat. Banyak investor memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap volatilitas pasar yang meningkat. Sentimen bearish pun mulai mendominasi pergerakan harga. Bitcoin yang sebelumnya stabil di jajaran aset terbesar dunia kini terus melorot. Kondisi ini memperlihatkan perubahan strategi investor dalam menghadapi ketidakpastian.
“Baca Juga: Trump Ubah Sikap ke Iran, Harap Ada Kesepakatan”
Ethereum Turut Terkoreksi dan Kehilangan Posisi Aset Global
Tekanan pasar tidak hanya dirasakan oleh Bitcoin. Ethereum, sebagai kripto terbesar kedua dunia, juga mengalami koreksi tajam. Dalam sepekan terakhir, harga Ethereum turun sekitar 14,5 persen. Dampaknya, kapitalisasi pasar Ethereum menyusut ke kisaran 300 miliar dollar AS. Posisi Ethereum kini berada di sekitar peringkat ke-68 aset terbesar dunia. Peringkat tersebut jauh dari posisi 50 besar yang sebelumnya sempat ditempati. Nilainya kini berada di bawah perusahaan global seperti Coca-Cola, Cisco, dan Caterpillar. Koreksi ini mempertegas tekanan menyeluruh di pasar kripto. Investor global terlihat semakin selektif dalam menempatkan dananya. Pergerakan pasar ke depan akan sangat bergantung pada stabilitas sentimen dan kondisi ekonomi global.




Leave a Reply