Reality Magazines – Kegigihan Apple dalam mengejar ketertinggalan di industri kecerdasan buatan (AI) tampaknya belum sepenuhnya membuahkan hasil. Di tengah pesatnya perkembangan chatbot dan asisten AI dari para pesaingnya. Apple justru dikabarkan harus bergantung pada teknologi milik rival lama mereka, yakni Google. Kondisi ini menegaskan bahwa upaya Apple di sektor AI masih menghadapi tantangan besar. Terutama dalam mengembangkan teknologi inti yang mampu bersaing secara mandiri.
“Baca Juga: Sony Lepas Bisnis TV, TCL Ambil Alih Operasional”
Selama beberapa tahun terakhir, Apple dikenal relatif berhati-hati dalam merilis inovasi AI generatif ke publik. Berbeda dengan OpenAI, Google, atau Microsoft yang agresif memperkenalkan chatbot canggih. Apple dinilai tertinggal dan lebih fokus pada pengembangan internal dengan pendekatan yang menekankan privasi. Namun, pendekatan tersebut tampaknya membuat laju inovasi Apple tidak secepat para kompetitornya.
Laporan Bloomberg Ungkap Rencana Siri Chatbot Baru
Dalam laporan terbarunya, jurnalis teknologi senior Mark Gurman dari Bloomberg mengungkap bahwa Apple sebenarnya tengah menyiapkan chatbot baru yang akan menjadi evolusi besar dari Siri. Chatbot ini disebut-sebut baru akan dirilis pada 2027, jauh lebih lambat dibandingkan pesaing yang sudah lebih dulu memimpin pasar.
Yang mengejutkan, Apple dikabarkan tidak sepenuhnya mengandalkan teknologi AI internal untuk proyek tersebut. Sebaliknya, perusahaan asal Cupertino itu disebut akan menggandeng Google dengan memanfaatkan teknologi Gemini sebagai fondasi utama chatbot Siri generasi baru. Langkah ini dianggap sebagai sinyal kuat bahwa Apple masih kesulitan mengejar ketertinggalan dalam pengembangan large language model (LLM) skala besar.
Kerja Sama Apple dan Google dalam Teknologi Gemini
Menurut laporan tersebut, chatbot Siri versi terbaru nantinya akan berjalan di atas arsitektur TPU (Tensor Processing Unit) milik Google serta memanfaatkan infrastruktur cloud Google. Apple disebut harus membayar biaya lisensi sekitar 1 miliar dolar AS per tahun kepada Google untuk menggunakan model Gemini versi kustom. Model AI ini dikabarkan memiliki skala sangat besar, dengan sekitar 1,2 triliun parameter, dan akan dijalankan di server privat milik Apple.
Konfigurasi ini dinilai cukup kompleks, namun Apple disebut memilih jalur tersebut demi memastikan keamanan data dan privasi pengguna tetap terjaga. Dengan menjalankan model Gemini di server privat, Apple ingin memastikan bahwa data pengguna tidak digunakan untuk pelatihan model atau kepentingan lain di luar ekosistem mereka. Meski demikian, keputusan untuk “menyewa” teknologi AI dari pesaing tetap menjadi sorotan. Mengingat Apple selama ini dikenal sangat mengandalkan teknologi buatan sendiri.
Siri Baru Diklaim Lebih Cerdas dan Fleksibel
Sebagai imbalan dari kerja sama tersebut, Apple akhirnya berpeluang merilis Siri versi baru yang jauh lebih pintar dibandingkan generasi sebelumnya. Chatbot ini tidak lagi sekadar asisten suara sederhana. Melainkan asisten AI generatif yang mampu menjalankan berbagai tugas kompleks layaknya chatbot modern.
Siri baru disebut akan terintegrasi penuh ke dalam sistem operasi Apple, bukan berdiri sebagai aplikasi terpisah. Dengan pendekatan ini, Siri diharapkan dapat bekerja lebih kontekstual dan menyatu dengan berbagai fitur di iPhone, iPad, dan Mac. Fungsinya mencakup pencarian web yang lebih cerdas, pembuatan teks dan gambar. Bantuan pemrograman, hingga kemampuan merangkum serta menganalisis informasi dari berbagai jenis file.
“Baca Juga: CEO OnePlus Bantah Kabar Perusahaan Akan Tutup”
Implikasi Besar bagi Strategi AI Apple
Ketergantungan Apple pada teknologi Gemini dari Google menimbulkan pertanyaan besar mengenai arah strategi AI perusahaan tersebut ke depan. Di satu sisi, langkah ini memungkinkan Apple menghadirkan fitur AI canggih tanpa harus menunggu pengembangan internal yang memakan waktu lebih lama. Di sisi lain, kerja sama ini memperlihatkan bahwa Apple belum mampu sepenuhnya bersaing secara mandiri di level teknologi AI generatif paling mutakhir.
Bagi industri, kolaborasi ini juga menjadi sinyal bahwa persaingan AI tidak selalu berujung pada rivalitas mutlak, melainkan bisa melahirkan kerja sama strategis antar raksasa teknologi. Namun bagi Apple, tantangan terbesarnya tetap sama, yakni bagaimana membangun fondasi AI yang kuat dan berkelanjutan tanpa terus bergantung pada kompetitor. Jika tidak, Apple berisiko terus tertinggal dalam perlombaan AI yang kini menjadi pusat inovasi industri teknologi global.




Leave a Reply