Reality Magazines – Dalam beberapa waktu terakhir, Ubisoft menghadapi tekanan internal yang cukup besar. Meski telah mengumumkan kerja sama strategis dengan Tencent untuk membentuk anak studio baru, kondisi internal perusahaan belum sepenuhnya stabil. Situasi tersebut diperparah dengan munculnya kabar gugatan hukum dari salah satu mantan eksekutif penting. Gugatan ini melibatkan sosok yang lama dikenal sebagai pemimpin utama franchise Assassin’s Creed. Kabar tersebut langsung menarik perhatian industri game global. Isu yang diangkat bukan sekadar perselisihan biasa, melainkan tuduhan “pemecatan konstruktif” atau constructive dismissal. Tuduhan ini mengindikasikan adanya tekanan sistematis dari perusahaan. Tekanan tersebut diklaim membuat karyawan tidak memiliki pilihan selain keluar.
“Baca Juga: Netflix Pastikan Tayang Film The Legend of Zelda”
Detail Gugatan Marc-Alexis Côté di Pengadilan Quebec
Laporan mengenai gugatan ini pertama kali diungkap oleh Radio-Canada. Marc-Alexis Côté, mantan Executive Producer Assassin’s Creed, mengajukan gugatan ke Pengadilan Tinggi Quebec. Dalam dokumen gugatan, ia menuntut ganti rugi sebesar 1,3 juta dolar Kanada. Nilai tersebut setara sekitar Rp15 miliar. Selain itu, ia juga menuntut ganti rugi moral sebesar 75 ribu dolar Kanada. Gugatan tersebut diajukan atas dugaan pemecatan terselubung yang dialaminya. Pada saat laporan ini ditulis, seluruh tuduhan masih berstatus klaim sepihak. Fakta-fakta tersebut belum diuji dalam persidangan. Ubisoft sendiri telah menunjuk firma hukum Fasken untuk menangani dan menentang gugatan tersebut.
Awal Mula Konflik Pasca Pembentukan Vantage Studios
Akar persoalan ini disebut bermula pada musim panas 2025. Pada periode tersebut, Ubisoft mengumumkan pembentukan anak perusahaan baru bernama Vantage Studios. Studio ini merupakan hasil kolaborasi antara Ubisoft dan Tencent. Fokus utama Vantage Studios adalah mengelola franchise besar Ubisoft. Assassin’s Creed menjadi salah satu fokus utama studio tersebut. Dalam konteks ini, Marc-Alexis Côté disebut tertarik melamar posisi strategis. Ia ingin mengisi jabatan Head of Franchise di Vantage Studios. Namun, keinginannya tidak berjalan mulus. Menurut laporan yang beredar, manajemen Ubisoft memiliki persyaratan lokasi kerja tertentu. Posisi tersebut diharuskan berbasis di Prancis. Sementara itu, Marc-Alexis ingin tetap bekerja dari Quebec.
Penolakan Posisi dan Dugaan Demosi Jabatan
Situasi kemudian berkembang semakin rumit pada Oktober 2025. Ubisoft mengumumkan bahwa Marc-Alexis Côté telah keluar dari perusahaan. Pernyataan resmi Ubisoft menyebut kepergiannya bersifat sukarela. Namun Marc-Alexis membantah klaim tersebut. Ia menyatakan bahwa dirinya tidak pernah mengundurkan diri atas kemauan sendiri. Menurut penjelasannya, perusahaan menawarkan posisi alternatif setelah menolak lamarannya di Vantage Studios. Posisi baru tersebut adalah memimpin studio yang menangani franchise lebih kecil. Marc-Alexis menilai tawaran itu sebagai bentuk demosi jabatan. Ia menganggapnya tidak sepadan dengan peran yang sebelumnya diemban. Karena itu, ia meminta waktu sekitar dua minggu untuk mempertimbangkan opsi tersebut.
“Baca Juga: Mijia Smart Audio Glasses Xiaomi Segera Masuk Indonesia”
Klaim Pengunduran Diri Sepihak dan Dugaan Penghindaran Pesangon
Menurut keterangan Marc-Alexis, situasi semakin memanas setelah permintaan waktu tersebut. Ia mengklaim Ubisoft justru mengumumkan secara internal keesokan harinya bahwa dirinya telah mengundurkan diri. Pengumuman itu disebut dilakukan tanpa persetujuan darinya. Ia membantah keras narasi pengunduran diri sukarela tersebut. Dalam gugatan, ia menilai langkah tersebut sebagai upaya perusahaan menghindari kewajiban pembayaran pesangon. Hingga kini, belum ada dokumen gugatan resmi yang dirilis ke publik. Seluruh informasi masih bersumber dari laporan media. Baik pihak Marc-Alexis maupun Ubisoft belum memberikan pernyataan lanjutan secara rinci. Kasus ini masih menunggu proses hukum berikutnya. Industri game kini menantikan klarifikasi resmi dari kedua belah pihak.




Leave a Reply